“Seseorang dikatakan dewasa bila ia mampu membuat keputusan yang rasional, mengambil keputusan dengan memikirkan akibatnya bagi orang lain, bertanggung jawab atas tindakan mereka, dan belajar dari kesalahan. Mereka dapat melihat kebutuhan dan keinginan mereka sendiri, serta memiliki empati untuk sudut pandang orang lain,” demikian penuturan psikolog,

Jovita Maria Ferliana, M.Psi.

Menurut Jovita, tingkat kedewasaan seseorang tergantung dari bagaimana ia menyikapi masalah yang dialami, termasuk menyikapi masalah yang timbul dalam pernikahan. Dengan demikian, pasangan yang menikah akan semakin dewasa melalui proses yang ia hadapi dalam rumah tangga.

Dalam kehidupan pernikahan, seseorang (atau pasangan) belajar untuk makin tumbuh dan berkembang. Baik secara emosi, mental, dan psikologis melalui proses yang terjadi dalam berumah tangga. Akan terjadi perubahan pada pola pikir, tidak egois, dan mau menerima pendapat orang lain termasuk pasangannya sendiri.

“Jika hal ini terjadi, maka dapat dikatakan bahwa pernikahan membuat seseorang semakin menjadi dewasa. Begitu pula sebaliknya,” kata Jovita.

Dalam menikah hal-hal yang biasanya berubah menjadi sebuah kedewasaan antara lain :

  • Rasa hormat
    Kurangnya rasa hormat pasti akan menyebabkan hilangnya rasa cinta. Bila dalam kehidupan pernikahan, kita memperhatikan hal ini (menghormati pasangan), biasanya sikap kita dalam menghormati orang lain di sekitar kita juga mengalami perubahan, sehingga membuat kita semakin dewasa.
  • Kompatibilitas
    Tidak ada dua orang yang memiliki kesamaan dalam semua hal. Oleh karenanya tiap individu dalam pasangan akan selalu terlibat kompromi dan toleransi untuk bergaul dengan satu sama lain. “Semakin Anda kompatibel, semakin mudah bagi Anda untuk memahami satu sama lain dan membuat keputusan bersama,” terang Jovita.
  • Pengambilan keputusan
    Ketika telah memutuskan untuk menikah, maka dalam mengambil keputusan pun khususnya yang berkaitan dengan rumah tangga, hendaknya didiskusikan terlebih dahulu dengan pasangan karena baik secara langsung maupun tak langsung Contoh : Saat harus lembur, komunikasi kan pada pasangan. Hal ini agar pasangan tidak cemas menunggu kita pulang.
  • Kemampuan empati
    Memahami perasaan orang lain terlebih jika sudah berumah tangga sangatlah dibutuhkan. Maka seiiring berjalannya waktu pernikahan, seseorang mampu berempati agar saling mengerti satu sama lain dengan pasangan.